Jumat, 11 Mei 2012

Asal Usul Pedamaran


Asal Usul Pedamaran

Dari Jawa Atau Meranjat


KECAMATAN Pedamaran merupakan salah satu dari 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), yang mayoritas penduduknya berasal dari satu rumpun keturunan, sisanya sebagian kecil dari suku pulau Jawa yakni penduduk desa transmigrasi. Kendati demikian, asal usul Pedamaran masih sering menjadi kontroversi di masyarakat. Meskipun sebagian besar masyarakat, mengakui bahwa kata Pedamaran berasal dari kata dasar Damar, sebuah tumbuhan yang memiliki getah.

---------ENDRI IRAWAN/PEDAMARAN--------

SUDAH Sangat kental, masyarakat setempat mengakui asal muasal masyarakat Pedamaran diyakini berasal dari Suku Melayu daerah Meranjat Kabupaten Ogan Ilir (OI) (Saat ini sekitar perjalanan mobil 2 jam dari Pedamaran) yang merantau ke wilayah daratan Pedamaran untuk mengambil kayu damar.
Kayu damar ini, habitat aslinya berasal dari Melanesia bagian timur. Tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getahnya dan diolah menjadi kopal. Tumbuhan ini banyak dijumpai di daerah pegunungan, tetapi terkadang juga dapat hidup dan berkembang di dataran rendah.
Bentuk pohonnya tegak meninggi dengan percabangan yang tidak terlalu lebar, daunnya agak tebal dan tumbuhan ini dapat digunakan sebagai bahan baku dalam memproduksi berbagai produk seperti pernis, cat, tinta, kemenyan, dempul, dan kosmetik.
 Lalu, entah darimana mula ceritanya para orang tua yang ada di Pedamaran berkeyakinan, Pedamaran berasal dari kata  Damar yang kemudian di tambah awalan Pe dan akhiran AN, sehingga menjadi “PEDAMARAN” yang artinya daerah pohon damar.
Cerita ini diperkuat dengan berbagai hasil karya seniman lokal dari daerah Pedamaran, Syahrudin yang dituangkannya dalam lagu Asal Usul Pedamaran, dan juga Suparman Gulux yang menciptakan lagu Urang Diri. Kedua lagu tersebut, menguatkan cerita bahwa nenek moyang Pedamaran berasal dari Meranjat.
“Nenek moyang kita ini berasal dari Meranjat yang merantau di daerah Pedamaran dengan menggunakan alat transportasi perahu. Dan perahu tersebut sering di letakkan di leboh tebakar, atau saat sekarang di sekitar Masjid Jamik, Desa Pedamaran II. Dan nenek moyang kita tersebut di kubur di pemakamam umum Desa Pedamaran III, yang kalau tidak salah namanya Kinang,”ungkap salah satu sesepuh masyarakat setempat Linom kepada penulis.
Kendati demikian, hingga saat ini tanda-tanda peninggalan tanaman kayu damar tidak nampak terlihat di wilayah ini, sehingga sebagian kelompok masyarakat justru lebih cenderung meyakini asal usul nenek moyang masyarakat Pedamaran berasal dari Pulau Jawa. Hal ini didukung dengan banyaknya perkuburan atau yang sering disebut warga setempat keramat 9 sakti, yang diduga berasal dari Pulau Jawa, seperti keramat Pulau Sekampung, Keramat Tanjung Tetak dan keramat lainnya. Keyakinan ini juga diperkuat adanya fakta bahwa di Pulau Jawa ada perkampungan Perkuburan keramat nenek moyang orang Pedamaran.
Berdasarkan opini, penelusuran dan cerita masyarakat, serta fakta peninggalan yang ada, maka timbul dua versi yakni kelompok yang meyakini nenek moyang Pedamaran berasal dari Meranjat dan kelompok yang meyakini nenek moyang mereka berasal dari Jawa.
          Kelompok yang pertama, yakin bahwa konon menurut cerita, orang Meranjat merantau ke Pedamaran untuk mencari damar (tidak di ketahui tahunnya), selanjutnya menetap dan tinggal di Pedamaran. Fakta ini diperkuat dengan terbentuknya Desa Serinanti yang diyakini sebagai tempat orang Meranjat menunggu atau menanti damar.
          Keyakinan, masyarakat kelompok ini, didukung dengan beberapa kesamaan bahasa antara Meranjat dengan Pedamaran, tetapi bahasa meranjat sedikit berayun meliuk. Sementara Pedamaran lebih tegas dan kasar. Bahkan pada zaman marga Pedamaran atau Marga Danau pernah dipimpin Depati Deraham asal Meranjat selama 26 tahun, yakni dari tahun 1815 – 1841.
          Kelompok ke dua yakin bahwa pada zaman dahulu kala, tidak diketahui tahunnya. Orang dari Pulau Jawa atau dari Samudra Pasai, datang ke wilayah Pedamaran dengan menggunakan perahu dan ketika memasuki sungai Babatan (disepanjang wilayah perairan pedamaran), perahu mereka pecah dan tenggelam di dasar sungai.
Orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri, kemudian bermukim di daerah tersebut. Fakta ini didukung di sekitar wilayah perairan bertetangga dengan Kecamatan Pedamaran. Ada sebuah lubuk besar yang diberi nama lubuk kemudi, yang konon ditempat tersebut pernah di temukan kemudi kapal berukuran besar.
          Selain itu, berkembang cerita bahwa nenek moyang Pedamaran dari Jawa. Karena adanya cerita penemuan sebila keris yang dibadan keris tersebut, terukir tulisan jawa kuno, yang konon kabarnya keris tersebut masih tersimpan  di museum Palembang.
          Selain penemuan tersebut, salah satu bukti yang meyakinkan nenek moyang Pedamaran asal jawa, ada beberapa kata bahasa Pedamaran sama dengan bahasa Jawa. Bahkan ada pemimpin Pedamaran zaman marga Depati Laduk memerintah pada tahun 1841 -1842, wafat di Pulau Jawa.
          Kendati demikian, belum ada sebuah tulisan yang mempunyai hak paten tentang asal usul dan sejarah Pedamaran. Yang jelas, berdasarkan fakta, bahwa pemerintahan Pedamaran mulai diakui sejak adanya zaman marga hingga zaman pasirah yang diperintah oleh 17 orang.
Yakni Pemimpin Pedamaran pertama kali yang diakui Marga Danau (Marga Asli Pedamaran) yakni Muyang Rio asal Pedamaran II yang memerintah pada tahun 1764-1789.
Selanjutnya Usang Lumutan asal Pedamaran I, memimpin Marga  Danau pada tahun 1789-1792. Kemudian Usang Ceremin asal Pedamaran I, pada tahun 1792-1807, dilanjutkan dengan kepemimpinan Usang Nyabung Teluk asal Pedamaran I pada tahun 1807-1814, dan beberapa pemimpin lainnya hingga ke zaman pasirah terakhir, yakni M Hasyim Sobar asal Pedamaran II, pada tahun1980-1983. (dri)

14 komentar:

  1. Maaf klu pedamaran di bilang asal usul dari jawa saya tdk setuju krn dari segi bahasa cukup jauh berbeda,cobalah kita pikir dengan kajian tentang sriwijaya,karna sy membantah it krn sy org pribumi pedamaran..

    BalasHapus
  2. Berdasarkan sumber yang didapat dari
    1. Suluk Abdul Jalil
    2. Enan Matalin dalam ‘’ Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan’’, Pada Tanggal 27 November 1984 di Palembang.
    yang terangkum dalam http://iqsanhumaniora.blogspot.co.id/ (Akademisi Humaniora) https://plus.google.com/103287909909643551188/posts

    Editor: K.H.O. Gadjahnata & Sri-Edi Swasono, Pedamaran merupakan perkampungan tua yang telah ada bahkan sebelum masehi, penduduknya memiliki kepercayaan, adat dan budaya yang sangat kuat dan khas sebelum Islam tersebar diperkampungan ini. Berikut merupakan lilatur mengenai Pedamaran dari masa ke masa.

    Menurut sumber-sumber yang dapat diperoleh mengenai sejarah Sumatera bagian Selatan sebelum abad Masehi, dinyatakan bahwa sejak masa sekitar 300 tahun sebelum Masehi, terdapat tiga buah kerajaan yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda. Pertama, Kerajaan Dempo dengan rajanya yang bergelar Raja Dempu Awang, terletak di daerah Pagaralam sekarang ini (di daerah Gunung Dempo). Kerajaan ini menguasai wilayah Sumatera Selatan bagian Barat. Kedua, Kerajaan Ipuh dengan rajanya yang bergelar Ranggo Laut (Penjaga Laut), terletak di Bukit Batu Tulung Selapan sekarang ini, yang kini termasuk dalam Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Gunung Manumbing di Pulau Bangka. Melihat letak daerah itu, tampak bahwa kerajaan ini menguasai bagian Timur Sumatera bagian Selatan, termasuk Pulau Bangka.

    Ketiga, Kerajaan Danau dengan rajanya yang bergelar Tuan Tigo Tanah Danau. Kerajaan ini terletak di sebelah Selatan Sumatera bagian Selatan, yang kini merupakan daerah Lebak atau danau yang bernama Pedamaran. Tempat ini pada masa lalu disebut pula sebagai Pedamaran. Marga Danau. mereka mempunyai tiga orang putri yang sangat cantik dan terkenal dengan nama Putri Danau atau Putri Air.

    Pada abad ke-6 M, ketiga wilayah ini dikatakan tergabung menjadi satu wilayah karena adanya perkawinan antara raja Dempo, yaitu bergelar Rana Dempu atau Dempu Awang dan raja Ipuh, yaitu bergelar Ronggo Laut, dengan putri-putri kerajaan Danau tersebut di atas. Dengan bersatunya ketiga kerajaan itu, menurut cerita, terbentuklah sebuah kerajaan baru yang disebut kerajaan Danau dan raja yang dipilih untuk memimpinnya adalah Ranggo Laut, yang bergelar Syailendra. Istilah ini berasal dari kata ‘’Sailandarah”, yang pada masa Pedamaran dijelaskan sebagai “ganti tunggu rumah, jalan diam”. Keluarga Syailendra inilah disebut oleh sumber-sumber kerajaan Sriwijaya sebagai keluarga yang juga menguasai Pulau Jawa dan mendirikan Candi Borobudur dan candi-andi lainnya di Jawa. Raja-raja dari keluarga Syailendra, yang dikenal sebagai para penguasa kerajaan Sriwijaya pada abad ke-6 sampai ke-9 M, menurut sumber-sumber tertentu bukanlah dari kerajaan Sriwijaya melainkan dari kerajaan Seribu Daya, yang penduduknya maenganut agama Budha. Sumber-sumber menyatakan bahwa pada abad ke-12 M, yaitu pada tahun 1180 M, suatu kesatuan armada yang terdiri dari empat buah kapal bertolak dari pulau Jawa atas perintah Wali Songo (Wali Sembilan).. Keempat armada tersebut bertolak ke Sumatera Selatan untuk menyiarkan agama Islam di tiga Kerajaan, yaitu kerajaan Dempo, Ipuh dan Danau. Mereka berangkat melalui jalur ke Kuala Lumpur, tidak melalui Selat Malaka. Armada yang berasal dari Banten, dengan nahkoda Empu Ing Sakti Barokatan, berlayar ke arah Timur menuju Ipuh; yang lokasinya adalah Bukit Batu Tulung Selapan sekarang. Mereka juga mengalami hambatan dilanda angin kencang sehingga kapal kehilangan arah. Sebagai akibatnya, mereka tidak menuju ke Timur seperti yang direncanakan semula, melainkan ke Selatan. Disana mereka terdampar di suatu tempat yang dahulu bernama Pedamaran dansekarang dikenal sebagai Sekampung atau Pulau Sekampung. Nama ini juga menyatakan bahwa di tempat itulah dahulu para awak dan penumpang kapal mendirikan perkampungan.

    BalasHapus
  3. Di tempat ini terdapat makam yang dikeramatkan, yang disebut Pedamaran Usang atau Puyang Sekampung. Makam tersebut merupakan makam salah seorang tokoh yang turut dalam kapal. Bernama Syarif Husin Hidayatullah, yang kemudian diangkat menjadi kepala pemerintahan setempat di Pulau Sekampung dan disebut Rio, dengan gelar Rio Minak. Di kampung ini ia mengajarkan agama Islam kepada masyarakat di sekitar danau atau lebak, yang sebelum dan pada masa pemerintahan keluarga Syailendra atau kerajaan Seribu Daya menganut agama Budha dan disebut juga sebagai Pedamaran Budi Kerti. Setelah perkampungan mereka mantap, Syarif Husin Hidayatullah memerintahkan Empu Ing Sakti Barokatan untuk bertolak menuju Jawa melalui daerah yang kini merupakan Lampung. Tujuannya adalah memberitahukan para Wlai Sembilan di Jawa bahwa tiga dari keempat armada mereka tidak sampai di sasaran semula, melainkan ke tempat lain akibat musibah yang dialami. Dari uraian di atas tampak bahwa semula agama Islam disiarkan oleh orang-orang Jawa atas perintah Wali Sembilan pada abad ke-12 M, yaitu pada tahun 1180 M. Karena selama bertahun-tahun para Wali Sembilan tak mendengar kabar tentang misi keempat armada tersebut, maka Syarif Hidayatullah yang terkenal sebagai Sunan Gunung Jati di Cirebon memberangkatkan suatu armada lain dikepalai oleh Kholik Hamirullah. Tugasnya adalah mencari keterangan tentang keempat armada terdahulu.

    Penamaan Pedamaran Versi Kholik Hamirullah

    Kedatangan Armada Kholik Hamirullah ke Sumatera Bagian Selatan Pada tahun 1221 M, armada Kholik Hamirullah bertolak ke Siguntang, Meranjat dan Prabumulih, dan akhirnya ke Sekampung Danau Pedamaran. Di Sekampung beliau dinikahkan dengan anak Rio Minak Usang Sekampung, dan diangkat sebagai Rio dengan gelar Ario Damar, berkedudukan di tempat yang bernama Sesa Baru. Nama Rio Damar inilah yang sesungguhnya menyebabkan terjadinya nama Pedamaran, yang berasal dari kata “Damar” atau pelita, karena ia menyebarkan dan menyiarkan agama Islam kepada para penduduk yang semula menyingkir dari Danau karena tidak bersedia masuk Islam yang diajarkan oleh Syarif Husin Hidayatullah Usang Sekampung. Dalam penyingkiran itu, mereka mendiami daerah di sekitar lebak-lebak dan talang-talang di daerah Pedamaran sekarang, seperti Lebak Teluk Rasau, Lebak Air Hitam dan Lebak Segalauh, juga Tanah Talang yang kini menjadi Pedamaran. Semula tempat itu bernama Talang Lindung Bunyian. Ketika itu, penduduk yang bersangkutan menganut kepercayaan animisme dan sebagian lainnya beragama Budha. Dalam waktu beberapa tahun ketika Kholik Hamirullah atau Rio Damar berada di daerah yang kini bernama Pedamaran, berhubungan antara para wali di Jawa dengan orang Palembang menjadi lebih lancar. Sekitar 5 tahun sesudahnya, datanglah seorang tokoh yang bernama Maulana Hasanudin, penyiar agam Islam dari Banten ke Sumatera bagian Selatan tersebut. Ia mengunjungi para pengikut keempat nahkoda yang berada di Siguntang, Meranjat, Prabumulih dan Danau Pedamaran, dan akhirnya menikah dengan Putri Patih yang berada di Meranjat, yaitu saudara nahkoda Suroh Pati. Menurut sumber-sumber yang diperoleh, dalam pemerintahan Ratu Sinuhun Ning Sakti ini, agama Islam berkembang dengan pesatnya, penyebarannya dari Palembang sampai ke Jambi, Bengkulu, Riau daratan hingga Semenanjung Tanah Melayu. (Sumber : Enan Matalin dalam ‘’ Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan’’, Pada Tanggal 27 November 1984 di Palembang. Editor: K.H.O. Gadjahnata & Sri-Edi Swasono)

    BalasHapus
  4. Penamaan Pedamaran Versi Ario Abdillah

    Ario Damar adalah ksatria tangguh yang telah teruji kecerdasan dan kesaktiannya dalam menumpas pemberontakan maupun memperbaiki, menata, dan membangun kembali negeri-negeri yang rusak akibat peperangan. la dikenal sebagai negarawan ulung. Ario Damar sejak kecil diasuh oleh uwaknya— kakak kandung ibundanya—seorang pendeta Bhirawatantra Dengan kemampuannya yang luar biasa itu, Ario Damar berhasil mengembalikan Palembang ke pangkuan Majapahit. la mampu menaptakan suasana aman dan tenteram, juga memakmurkan rakyat Palembang. Palembang yang sudah terpuruk ke jurang kebinasaan itu ternyata bisa bangkit lagi. Ketika usianya makin merambat senja, Ario Abdillah (Ario Damar setelah masuk Islam) kemudian memilih tinggal di rumah sederhana di kampung yang dinamakan Pedamaran (artinya kediaman Ario Damar). Dari Pedamaran itulah ia memberitakan kebenaran ajaran Islam. Mula-mula ia menyiarkan ke¬pada penduduk di sekitar Pedamaran. Dulu penduduk di sana terkenal sangat menentang ajaran Islam yang disebarkan oleh Syarif Husin Hidayatullah, bangsawan Arab yang menjadi pemimpin di daerah Usang Sekampung. Namun, di bawah bimbingan Ario Abdillah, penduduk dengan sukarela berkenan memeluk Islam. Begitulah, daerah-daerah kafir seperti Talang Lindung Bunyian, Lebak Teluk Rasau, Lebak Air Hitam, dan Lebak Segalauh telah menjadi perkampungan Muslim. (Sumber : Suluk Abdul Jalil)

    Sebetulnya banyak versi mengenai Pedamaran

    1. Pedamaran berasal dari orang Meranjat yang mencari getah damar yang patut dipertimbangkan ialah karena tak adanya Pohon damar disekitar Pedamaran sekarang. Berdasaran sumber tadi bahkan dinyatakan bahwa Pedamaran sudah ada bahkan sebelum Masehi. Kesamaan bahasa dengan Meranjat dan beberapa daerah lainnya, dimungkinkan karena memiliki Puyang yang sama dan memang berasal dari suku yan sama. Oleh karena itu perlu diteliti dan dikaji lagi, Puyang yang menghubungkan Meranjat, Tanjung Batu dan Pedamaran, khususnya di era era sebelum penyebaran Islam terjadi.

    2. Pedamaran bukan berasal dari Jawa. Perlu dipertimbangkan ialah Kerajaan Danau/ Wilayah danau yang sudah ada sebelum penyebaran Islam. Adapun peran Jawa ialah sama dengan beberapa tempat lainnya seperti disumatera, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, bahwa Penyebar Islam yang berasal dari Timur, yang berpergian menyebarkan islam antara Timur Tengah - Champa - Semenanjung Malaya - Sumatera - dan sebaginya, dan Pulau Jawa merupakan tempat menetap dan meninggalnya para pembesar penyebar agama Islam di Nusantara tersebut.

    Maaf Apabila ada keselahan, ini merupakan salah satu referensi penunjang. karena kita sebagai orang pedamaran perlu menelisik lebih lanjut mengenai asal usul suku kita, Sebab itu merupakan identitas berharga pemberian Allah SWT.

    BalasHapus
  5. Mari Pertahankan tanah leluhur, jaga budayanya, hargai adatnya, damai warganya, berbudi akhlaknya, lestarikan bahasanya dan tinggi imannya.

    BalasHapus
  6. Mari Pertahankan tanah leluhur, jaga budayanya, hargai adatnya, damai warganya, berbudi akhlaknya, lestarikan bahasanya dan tinggi imannya.

    BalasHapus
  7. Semuanya belum pasti kebenarannya, kalopun pedamaran ada keturunan dari pulau jawa saya rasa tidak salah juga begitupun ada krturunan meranjat, yang penting kita semua menjaga dan mrlestarikan kebudayaan2 yang ada di masyarakat pedamaran

    BalasHapus
  8. Kalu ujiku pedamaran itu nenek moyang aslinyo urang kerajaan sriwijaya yg tinggal didaerah pedamaran buktinyo banyak urang ndek maseh galak bakar menyan dan memanggil arwah leluhur sambil makan hidangan nasi ayam.agama urang pedamaran aslinyo budha.samo pecak agama urang thailand dan india.

    BalasHapus
  9. terimah kasih,berkat admin kami bisa menyelesaikan tugas dengan baik < sebagai masyarakat Pedamaran

    BalasHapus
  10. bapaku aslinyo dari pedamaran namonyo gilik pendah...adakah yg kenal dgn silsilah aku...nama gedeh jantan masodang

    BalasHapus
    Balasan
    1. pacak aku iko parak rumah adek wak cik iba..mase broyot kiti

      Hapus
    2. Cik iba namo buyutku
      Aku cucu cik non

      Hapus